Menggambar Suara dan Menyuarakan Gambar?

2010
07.15

Askum.

Pernahkah Anda membayangkan andai saja sampai sekarang tak ada satupun orang yang berusaha “menggambar suara”?

Artikel ini sepenuhnya adalah pendapat dan semata-mata hanya sekedar “korban” hobi menulis dan “bikin-teori-sendiri” saya. Kebenarannya tidak dijamin–tapi saya tidak melarang siapapun untuk mencari pembenaran di luar blog ini.

Semenjak kecil kita sudah dilatih “menyuarakan gambar“–membaca, maksudnya. Saat di bangku TeKa kita dilatih membaca puisi-puisi pendek, dan saat naik kelas nol besar, kita diajar untuk menyanyikannya. Di bangku kelas 1 EsDe, kita diajarkan “menggambar suara“–menulis. Dan semakin kita beranjak dewasa, kita sudah terbiasa dengan yang namanya menggambar suara dan menyuarakan gambar.

Proses inilah yang disebut dengan menulis dan membaca, dan kita mengenal keduanya tercetak di atas kertas. Kita awalnya mengenal bahwa tulisan selalu di atas kertas, begitu pula kita menulis dengan beralaskan kertas. Kini kita tahu media lain untuk menulis dan membaca, yaitu media elektronik seperti blog ini. Tapi tahukah Anda alasan manusia menggambar suara dan menyuarakan gambar?

.

Menggambar Suara

Zaman dahulu, saat seseorang belum mengenal bahasa, mereka saling berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Saat kemampuan otak mereka meningkat, mereka mulai menciptakan bahasa. Bahasa ini disampaikan melalui mulut ke mulut. Di sinilah mulai tercipta masalah: tidak semua mulut bisa mengatakan hal yang sama persis.

Maka dari itulah, manusia berpikir untuk membuat sesuatu yang bisa “mematenkan” satu urutan kata tanpa menggunakan media mulut. Mereka pun mulai menggambarkan apa yang mereka katakan pada suatu media, seperti kata “sapi” dituliskan dengan gambar sapi.

Di sinilah muncul masalah baru: semakin berkembangnya otak, muncullah beberapa suku kata yang tidak bisa digambarkan. Misalnya kata “takut” tidak bisa digambarkan dengan simbol apapun. Maka manusia pun mulai menciptakan karakter-karakter khusus untuk melambangkan kata-kata tersebut. Di sinilah awal mula tulisan tercipta.

.

Menyuarakan Gambar

Yang namanya manusia tidak akan pernah hidup selamanya dan pasti memiliki generasi pengganti. Di sini muncul masalah lagi: bukankah generasi baru tersebut belum mengerti tentang karakter-karakter tulisan yang mereka buat? Di sinilah manusia mulai mengajarkan cara membaca karakter-karakter tersbut yang akhirnya berkembang turun temurun dan menyebar menjadi tulisan yang kita kenal saat ini.

Semakin banyaknya manusia di muka bumi dan semakin banyak dari mereka yang membentuk kelompok-kelompok, semakin banyak pula karakter tulisan dan bahasa yang mereka ciptakan. Di sinilah muncul masalah baru: bagaimana bisa manusia dari kelompok satu berkomunikasi dengan manusia dari kelompok lainnya jika mereka mempunyai bahasa yang berbeda?

Di sinilah manusia mulai belajar untuk memahami tulisan dan bahasa dari kelompok lain tersebut.

.

Dunia Tanpa Baca Tulis

Sekarang mari kita masuk ke dunia imajinasi. Bayangkan dunia tak tersentuh baca tulis. Satu hal yang pasti terasa berkurang dari dunia: SEJARAH.

Percayakah Anda pada sejarah yang hanya dituruntemurunkah dari mulut ke mulut?

Kelak sejarah yang bersangkutan tersebut selalu berubah dari kenyataannya, dan berubah menjadi sekedar legenda atau mitos. Sedangkan sejarah yang tertulis hitam di atas putih selalu bisa diselidiki dan, pada akhirnya, diakui kebenarannya.

Selain itu, hal kedua yang berkurang dari dunia adalah IPTEK. tidak semua manusia memiliki wawasan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sama, dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk saling mengajarkan Ipteknya. Penyebarluasan Iptek ini tak mungkin semata-mata hanya lewat mulut ke mulut. Bayangkan saja begini: Anda baru saja membeli sebuah mesin cuci yang impor dari Cina. Namun Anda belum tahu cara penggunaannya. Masa’ Anda harus memanggil teknisi langsung dari Cina? Nggak mungkin, kan? Karena itulah dibuat petunjuk penggunaan dalam bentuk buku.

Inilah manfaat-manfaat yang paling besar dari penemuan paling berharga manusia: Baca Tulis.

Jika biasanya di akhir artikel penulis memberi saran atau argumentasi, saya tidak bisa memberi saran apa-apa pada Anda. Saya juga bingung mau memberi argumentasi apa. Tapi saya cukup senang memberi tahu pendapat ini pada Anda, karena saya berharap Anda bisa mencari pembenaran di luar sana dan mengoreksi sesuatu yang salah pada artikel ini–jika ada. 

Akhir kata, terima kasih. Walkum.

Did you like this? Share it:

Copas: Berguru dari Penulis yang (justru) Merasa BUKAN Penulis

2010
07.15
Ini adalah COPAS lagi dari Jonru on The Web bagi ente-ente yang punya obsesi jadi penulis atau cuma sekedar ingin tahu gimana sih rasanya jadi penulis.
Berdasarkan penerawangan pengamatan saya, ada berbagai macam jenis penulis yang hidup di muka bumi ini. Yaitu:
  1. Penulis profesional, yakni orang-orang yang mencari uang lewat kegiatan menulis. Mereka ini masih terbagi dua lagi, yakni:
    1. Full Time Writer ==> Menulis sebagai sumber penghasilan utama.
    2. Part Time Writer ==> Menulis sebagai salah satu sumber penghasilan utama.
  2. Penulis amatir, yakni orang-orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi belaka. Banyak orang yang salah persepsi terhadap istilah “penulis amatir” ini. Mereka mengira, penulis amatir adalah orang-orang yang belum pintar menulis, Hm, ini pandangan yang keliru, Saudara-saudara Sekalian!
    Termasuk ke dalam golongan penulis amatir:
    Orang-orang yang menulis untuk tujuan menambah pergaulan, berbagi ilmu, menghilangkan stress, aktualisasi diri, dan sebagainya.
    Seiring dengan perkembangan zaman pengalaman dan keahlian mereka, banyak penulis amatir yang akhirnya beralih status menjadi penulis profesional.
  3. Penulis Tidak Sadar, yakni orang-orang yang sering menulis (dengan tujuan tertentu), tapi mereka merasa bukan penulis. Contohnya
    1. Blogger. Mereka ini umumnya lebih senang disebut blogger daripada penulis. Padahal kegiatan utama mereka justru menulis. Jadi, sebenarnya mereka ini penulis juga, kan? (Barulah ketika tulisan di blog mereka diterbitkan menjadi buku, mereka dengan percaya diri mengatakan, “Saya penulis.”)
    2. Pebisnis online atau internet marketer. Mereka biasanya menulis untuk tujuan SEO, meningkatkan trafik website, dan sebagainya. Sama seperti blogger, mereka pun tidak sadar bahwa mereka sebenarnya penulis.
    3. Staf atau manajer humas di perusahaan, yang harus sering menulis untuk dibaca oleh wartawan atau konsumen mereka.
    4. Dan sebagainya.
  4. Penulis Wanna Be, yaitu orang yang bercita-cita menjadi penulis, tapi tak terwujud juga. Bukan karena mereka gagal. Bagaimana mungkin dibilang gagal, jika mencoba saja belum pernah. Mereka mengaku terlalu sibuk, banyak kendala, belum tahu caranya, MERASA MINDER, dan sebagainya dan sebagainya. Ah, banyak alasan deh pokoknya

* * *

Pada tulisan ini, saya tertarik untuk membahas penulis jenis ke-3.

Kenapa?

Sebab bagi kita semua yang termasuk penulis jenis nomor 1, 2 atau 4, SANGAT PERLU BERGURU PADA MEREKA.

Kenapa?

Coba perhatikan: Mereka ini pada umumnya bisa membuat tulisan yang bagus dengan cara yang sangat mudah.

Kenapa?

Sebab mereka tak punya beban dalam menulis. Ya, tentu saja. Mereka kan merasa bukan penulis. Jadi mereka menulis secara alamiah saja. Sesuai gaya dan passion masing-masing.

Maka, dari penulis jenis ke-3 inilah, lahirlah banyak tulisan yang bagus, berkualitas, dan disukai oleh banyak orang.

Bila Anda ingin saya menyebutkan contohnya, baiklah! Berikut beberapa di antaranya:

  1. Fauzi Rachmanto (banyak teman yang bilang, tulisan dia “daging semua”, saking bagusnya). Belakangan beliau juga menerbitkan buku dan menjadi kolumnis di majalah Wirausaha & Keuangan. Selamat ya Pak
  2. Roni Yuzirman. Tulisan-tulisan di blog pribadinya menjadi salah satu cikal bakal lahir dan berkembangnya Komunitas Tangan Di Atas yang terkenal itu.
  3. Agung “mbot” Nugroho. Demi Tuhan, tulisan-tulisan dia sangat unik dan luar biasa! Belakangan, Mbot juga menerbitkan sebuah buku.
  4. Edy Sihombing. Ia banyak menulis mengenai internet marketing.
  5. Akmal. Dia ini adalah penulis yang menurut saya, “Cara berpikirnya kok persis banget dengan saya?”
  6. Priyadi. Walau sekarang berhenti ngeblog, yang jelas tulisan-tulisan di blognya sangat bagus, diminati oleh banyak orang, sehingga dia PERNAH menjadi blogger paling ngetop di Indonesia.
  7. Cosa Aranda. Karena tulisan-tulisan di blognya-lah, dia kini sukses sebagai salah seorang internet marketer paling ngetop di Indonesia.
  8. Welly Mulia. Sama seperti internet marketer sukses lainnya, dia juga banyak membuat tulisan yang bagus di blog pribadinya.

Oke, delapan saja sudah cukup, ya. Maaf bagi teman-teman yang merasa sebagai penulis jenis ke-3, tapi belum saya cantumkan di atas. Bukan berarti saya lupa pada Anda. Tapi kalau ditulis semuanya, bisa-bisa tulisan ini berubah menjadi “daftar nama penulis”

Yang jelas, saya sangat kagum pada Anda semua!

* * *

Nah, bagi kita-kita ini yang merasa sebagai penulis jenis 1, 2 atau 4, dan selama ini masih menghadapi kendala dalam menulis, cobalah kita berguru kepada para penulis jenis ke-3 di atas.

Kenapa kita sering mandeg dan tak bisa menulis?

Karena belum apa-apa, kita sudah banyak berpikir:

“Nanti tulisannya bagus enggak, ya?”

“Apa tulisan seperti ini layak disebut cerpen?”

“Bagaimana kalau tata bahasanya tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan?”

“Bagaimana kalau para pembaca mengejek tulisan ini? Duh, malunya!”

Para penulis jenis ke-3 di atas, sama sekali tak pernah berpikir seperti itu. Mereka menulis secara spontan saja, tanpa banyak mikir.

“Ah, mungkin karena mereka memang berbakat!!!”

HEI SIAPA YANG BILANG ITU????

Kalau Anda masih percaya bahwa bakat itu penting, coba baca dulu artikel yang ini dan yang ini

Percayalah! Yang dilakukan oleh para penulis jenis ke-3 di atas – yang menyebabkan mereka sukses sebagai penulis, adalah:

MEREKA MENULIS DENGAN OTAK KANAN

Anda sudah baca tulisan “Kiat Menulis Bebas” alias “Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri?”

Kalau belum, coba dibaca dulu ya.

(Ada beberapa teman yang – katanya – sudah membaca tulisan tersebut. Tapi, “Ketika saya mempraktekkan kiat menulis bebas, kok masih susah ya? Saya tetap mandeg menulis!!!”

Temanku, percayalah! Ini hanya soal latihan. Segala sesuatu yang masih baru, memang terasa berat ketika dicoba, Karena itu, teruslah berlatih, ya! Tetap Semangat! Pantang Menyerah!)

Nah, bila Anda ingin menjadi penulis yang percaya diri, punya motivasi yang tinggi, tangguh, pantang menyerah dalam menghadapi kendala apapun termasuk penolakan naskah, selalu rajin dan penuh semangat dalam menulis……

Anda harus membaca buku terbaru saya:

penulis suksesCARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com

Did you like this? Share it:

Copas: Lagi, Soal Perbedaan antara Tulisan Fiksi dengan Nonfiksi

2010
07.15

Ini adalah COPAS dari Jonru on The Web. masih ada hubungan kuat dengan postingan saya yang ini nih: Apresiasikan Novelmu!

Beberapa waktu lalu, saya KAGET LUAR BIASA ketika menemukan fakta bahwa TERNYATA banyak penulis yang masih salah persepsi mengenai perbedaan antara tulisan fiksi dengan nonfiksi. Saya pernah membahas hal ini secara jelas dan detil di sini. Lantas, beberapa bulan sebelumnya saya juga pernah membuat tulisan yang temanya mirip, berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Kisah Nyata”. Silahkan klik di sini untuk membacanya.

Setelah menulis kedua artikel di atas, ternyata masih banyak teman yang sering bertanya pada saya. Pertanyaan mereka tentu beragam, tapi intinya mereka masih salah persepsi mengenai perbedaan fiksi dengan nonfiksi.

Dan beberapa hari lalu, lagi-lagi saya terlibat pembicaraan seru mengenai topik ini, bersama seorang teman lewat chatting di Facebook.

Si teman ini – sebut saja A – mengatakan bahwa dia berencana menulis novel yang diangkat dari sebuah insiden berdarah pada masa Orde Baru. Untuk menjaga privasi si teman ini, mohon maaf saya tak bisa menyebutkan insiden apakah itu. Silahkan tebak sendiri, ya

Teman A ini menyampaikan permasalahan yang dia hadapi:

“Saya hendak menulis novel yang diangkat dari insiden tersebut, yang sampai sekarang kasusnya belum terungkap. Saya punya banyak narasumber mengenai peristiwa itu. Dan saya pikir, kalau dituangkan dalam sebuah novel, sepertinya bagus juga. Masalahnya, cerita ini sedikit menyinggung SARA. Dan sepertinya, ada pihak yang tak suka kalau peristiwa itu dikenang kembali. Tapi bagaimanapun, insiden ini kan sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Publik harus tahu kebenarannya. Bagaimana menurut Bang Jonru?”

Begitu mendengar penuturan teman A ini, saya langsung teringat pada kedua tulisan yang saya link di atas. Maka, segera saya menjawab, “Saya kira, hal-hal seperti ini tak masalah, Mas. Yang penting, kita pintar-pintar saja menulisnya. Mungkin bisa pakai simbol, nama dan tempat disamarkan, dan seterusnya. Namanya juga novel. Kita bebas bermain-main dengan imajinasi. Sebagai cerita fiksi, isi novel tentu tidak harus 100 persen faktual, bukan?”

“O, gitu ya? Jadi tak perlu ditulis berdasarkan kisah nyata?’

“Ya, enggak, dong. Ente mau menulis novel atau catatan sejarah?”

Si teman A sepertinya mikir sebentar, lalu dia berkata lagi, “Oooo…, jadi menurut Bang Jonru, novel itu pasti fiksi?”

Duh, saya tertawa geli di dalam hati mendengar pertanyaannya itu. Maka segera saya jawab, “Hehehe…., itu bukan menurut saya. Semua novel memang fiksi (saya sempat heran juga, dulu ada teman yang mencetuskan istilah “novel nonfiksi”, atau “novel semi fiksi” dan sebagainya, hehehehe….). Ide cerita boleh dari kisah nyata. Tapi dalam penggarapannya kan digabung dengan imajinasi. Kalau murni kisah nyata, namanya bukan novel. Mungkin memoar atau biografi atau catatan sejarah.”

“Tapi Laskar Pelangi kan kisah nyata juga, Bang???”

Nah, pertanyaan inilah yang membuat saya mulai NGEH.
Mungkin (ini hanya perkiraan saya lho ya….), sejak terbitnya novel Laskar Pelangi yang diangkat dari kisah nyata, juga beberapa novel sejarah yang notabene dari kisah nyata juga (seperti “Gajah Mada” atau Rahasia Mede”), maka “definisi” fiksi dan nonfiksi pun SEMAKIN KABUR di mata para penulis. Khususnya penulis-penulis yang belum tahu persis apa perbedaan antara tulisan fiksi dengan nonfiksi.

Saya pun segera menjawab, “Betul. Laskar Pelangi diangkat dari kisah nyata. Tapi tidak 100 persen. Di dalamnya banyak hal yang fiktif juga. Andrea Hirata sendiri juga mengakui.”

Si A ini tampak bingung. Saya pun merasa agak kesulitan menjelaskan masalah ini agar mudah dipahami. Akhirnya, saya terpaksa menggunakan analogi.

“Agar lebih dimengerti,” ujar saya, “logikanya begini. Ada air yang sangat bersih, dan halal dari segi hukum agama. Lalu tiba-tiba, ada lemak babi yang masuk ke air itu. Hanya setetes. Tapi itu sudah membuat air tersebut menjadi haram. Maaf ya, ini hanya analogi. Saya tidak mengatakan bahwa fiksi itu halal atau haram dan seterusnya. Sama sekali tidak! Ini hanya analogi agar masalah ini gampang dipahami. Oke?”

“Ya, saya paham.”

“Thanks. Jadi intinya begini:
Walau unsur imajinasi hanya setitik, maka itu sudah membuat sebuah kisah nyata menjadi karya fiksi. Contohnya adalah Laskar Pelangi tadi. Novel ini diangkat dari kisah nyata. Tapi karena di dalamnya sudah ada unsur-unsur imajinasi (tidak peduli sebanyak atau sesedikit apapun itu), maka dia sudah berubah menjadi karya fiksi. Paham, ya?”

“Ya, saya paham. Lantas yang jadi masalahnya, bagaimana dengan unsur SARA pada kisah nyata tersebut?”

“Seperti yang saya katakan tadi, semua itu tergantung bagaimana cara kita menuliskannya, Mas. Ada penulis bernama Laura Khalida yang pernah menulis novel berjudul Kupu-kupu Pelangi. Ceritanya tentang kondisi masyarakat di daerah tertentu di Jawa Barat. Di sana terdapat sebuah budaya yang memprihatinkan. Para orang tua sudah terbiasa menjual anak gadis mereka ke kota untuk dijadikan pelacur. Ini benar-benar kisah nyata. Ada beberapa daerah di Jawa Barat yang budayanya seperti itu.

Laura Khalida pun mengangkat kisah ini menjadi novel. Awalnya dia ragu, khawatir masyarakat setempat akan protes padanya. Tapi dia tak kehabisan akal. Di dalam novel ini, Laura sama sekali tidak menyebutkan nama daerahnya. Dia hanya menulis ‘sebuah desa di Jawa Barat’. Lalu dia menciptakan tokoh-tokoh fiktif di dalam novel tersebut. Yang faktual hanya hal-hal yang berkaitan dengan budaya tersebut.

Nah, begitu kira-kira gambarannya, Mas. Jadi semua tergantung dari kreativitas kita saja, kok. Semua bisa disiasati.”

“O, gitu, ya. Terus ada satu hal lagi, Bang, “lanjut Teman A. “Ternyata ada pihak tertentu yang tidak suka bila insiden berdarah tersebut diungkit-ungkit lagi. Bila saya tetap menulisnya, maka tentu ada resiko yang akan saya hadapi. Bagaimana, dong?”

“Hehehe….” saya kembali tertawa. “Sebenarnya jawabannya sudah saya ulang dua kali di atas, Mas. Itu semua tergantung kreativitas kita saja, kok. Semua bisa disiasati. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis sebuah cerpen di masa Orde Baru, judulnya PAMAN GOBER, dimuat di Republika. Cerpen ini jelas-jelas menyindir dan mengkritik (alm) Soeharto. Karena tokoh Paman Gober pada cerpen ini benar-benar merupakan ‘analogi’ dari Soeharto. Tapi Seno aman-aman saja. Dia tidak ditangkap gara-gara cerpen tersebut. Sebab kritikannya disampaikan dengn cara yang sangat halus dan kreatif.”

“O, jadi intinya pada kreativitas, ya?”

Saya tersenyum lega. Akhirnya si teman ini paham juga. Alhamdulillah

NB:
Seperti yang sudah dibahas di sini:

Perbedaan antara fiksi dengan nonfiksi sebenarnya hanya terletak pada masalah faktual atau tidak, imajiner atau tidak.

Jadi, perbedaan antara keduanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya bahasa atau apapun selain masalah fakta atau imajiner.

* * *

Semoga Bermanfaat.

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com

Did you like this? Share it:

Copas: “Saya Punya Naskah Buku atau Novel. Ke Penerbit Mana Harus Saya Kirim?”

2010
07.15

Ini adalah COPAS dari Jonru on The Web yang menjadi salah satu blogger favorit saya.

Ini adalah salah satu pertanyaan paling sering yang saya terima dari teman-teman penulis. Dan setiap kali menerima pertanyaan seperti ini, terus terang hati saya langsung jatuh miris.

Betapa tidak! Pertanyaan seperti ini menggambarkan bahwa si penanya tak ubahnya seperti seorang prajurit yang hendak berangkat perang, tapi dia tidak tahu lokasi perangnya di mana, dengan siapa dia akan berperang, bahkan apa penyebab dari peperangan tersebut!

Bila Anda ingin menerbitkan buku, maka BUKU dan PENERBITAN BUKU adalah dua hal yang harus menjadi bagian dari hidup Anda. Dengan kata lain, Anda harus rajin membaca buku dan rajin MEMPELAJARI penerbit buku.

Katakanlah Anda sedang menulis sebuah naskah nonfiksi bertema politik. Maka, yang harus Anda lakukan adalah MENCARI TAHU, penerbit mana saja yang biasanya menerbitkan buku-buku politik. Anda mungkin harus rajin bertandang ke perpustakaan, toko buku, dan pameran buku. Anda mungkin harus membeli sejumlah buku politik dari beberapa penerbit. Lalu silahkan pelajari isinya.

Bila Anda sedang menulis sebuah novel remaja Islami, maka Anda harus MENCARI TAHU penerbit mana saja yang biasanya menerbitkan novel-novel seperti itu. Setelah tahu, Anda sangat disarankan untuk membeli dan membaca beberapa dari novel terbitan mereka. Lalu silahkan dipelajari isinya.

Dari kegiatan-kegiatan seperti ini, insya Allah suatu saat nanti Anda akan tahu, naskah Anda tersebut cocoknya dikirim ke penerbit mana.

Fauzil Adhim, salah seorang penulis best seller di Indonesia, pernah bercerita bahwa sebelum mengirim naskah “Kupinang Kau Dengan Hamdallah” ke Mizan, dia terlebih dahulu membaca beberapa buku terbitan Mizan. Dia mempelajari karakter, misi dan visi Mizan dari buku-buku tersebut. Dia bahkan mempelajari gaya penulisan yang banyak digunakan pada buku-buku terbitan Mizan. Setelah itu, Fauzil Adhim pun menjadi paham, apa yang harus dia lakukan agar bukunya nanti bisa diterbitkan oleh Mizan.

Dan memang terbukti, bukunya tersebut berhasil diterbitkan oleh Mizan, bahkan menjadi best seller.

Sayangnya, banyak sekali penulis – khususnya pemula – yang malas membaca buku. Apalagi mempelajari penerbit-penerbit yang ada.

Maka tidak heran:
Ketika sudah menulis sebuah naskah buku, mereka bingung: Ke penerbit mana harus saya kirim?

Dan pertanyaan seperti yang terdapat pada judul tulisan ini pun banyak muncul di mana-mana. Bagi saya, itu adalah salah satu pertanyaan paling konyol di dunia penulisan. Tapi berita buruknya, hingga hari ini saya masih sering mendengar atau membaca pertanyaan seperti itu yang muncul di mana-mana.

Dan setiap kali ditanya seperti ini, maka mau tidak mau jawaban yang saya berikan pun TERPAKSA sangat mengambang:

“Coba cari penerbit yang misi/visi dan karakter mereka sama dengan naskah Anda. Sebagai penulis, kita memang harus banyak belajar tentang penerbit-penerbit yang ada beserta buku-buku terbitan mereka.”

Berita baiknya, ada juga teman yang merasa puas oleh jawaban mengambang seperti ini. Alhamdulillah.

Semoga informasi singkat ini bermanfaat bagi Anda yang sedang mencari penerbit untuk menerbitkan naskah Anda.

NB: Bagi Anda yang masih pemula dan bingung penerbit mana yang cocok untuk naskah Anda, coba baca artikel yang satu ini.

* * *

Semoga Bermanfaat.

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com

Did you like this? Share it:

Copas: Kiat Jitu Menjadi JUARA Lomba Penulisan

2010
07.15

 

Ini adalah COPAS dari situs Jonru on The Web yang menjadi salah satu artikel favorit saya.

Penulis mana yang tidak tertarik pada info lomba penulisan? Bagi para pemula, lomba penulisan bahkan bisa menjadi batu loncatan yang sangat besar untuk perkembangan karir kepenulisan mereka (dengan catatan: karya mereka tampil sebagai lomba penulisanpemenang!).

Saya pun dulu merasakan hal seperti ini. Ketika saya masih sangat pemula, ketika karya saya masih ditolak di mana-mana, alhamdulillah di tahun 1994 saya menjadi juara pertama Lomba Cipta Cerpen Remaja yang diselenggarakan oleh majalah Anita Cemerlang (sekarang sudah tidak terbit). Sejak saat itu, karir kepenulisan saya langsung melonjak drastis!

(NB: Ketika menjadi pemenang itulah, saya sekaligus berhasil membuktikan bahwa seorang penulis pemula bisa “mengalahkan” penulis yang sudah sangat senior. Bayangkan! Saya ketika itu masih sangat pemula. Sementara juara kedua adalah Benny Ramdhani, yang saat itu sudah sangat terkenal, karya-karyanya sudah banyak tersebar di sejumlah media cetak. Bahkan pada tahun sebelumnya untuk lomba yang sama, karyanya yang tampil sebagai pemenang pertama).

Kini, saya sudah hampir tak pernah mengikuti lomba penulisan. Sebaliknya, saya justru sering terlibat sebagai juri. Pengalaman paling berkesan adalah ketika saya dipercaya sebagai juri untuk lomba penulisan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh sebuah Bank BUMN yang sangat terkenal, sekitar setahun lalu.

Nah, tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman sebagai juri di beberapa lomba, plus sebagai orang yang pernah menjadi pemenang pertama lomba penulisan (walau hanya sekali).

Hal pertama yang harus kita ketahui:
Cara penilaian naskah lomba benar-benar berbeda dengan yang mungkin Anda bayangkan. Biasanya, dalam situasi normal, kita menilai sebuah tulisan secara kualitatif saja, seperti:
“Bagus banget.”
“Lumayan baguslah!”
“Luar biasa bagus, keren banget tulisannya!”
Dan seterusnya.

Naskah untuk lomba penulisan tidak dinilai dengan cara seperti itu. Ya, tentu saja! Coba bayangkan bila ada 500 naskah peserta yang masuk. Lalu ada 20 naskah yang masuk kategori Luar biasa bagus, keren banget tulisannya! Naskah mana yang akan dipilih menjadi pemenang pertama?

Tentu saja, para juri akan kebingungan untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Sebab penilaian secara kualitatif umumnya bersifat sangat bias, bisa menimbulkan banyak persepsi, dan tidak jelas ukurannya. Tiap orang bisa memberikan penafsiran yang berbeda-beda terhadap pernyataan, “Luar biasa bagus, keren banget tulisannya!”

lomba penulisanKarena itulah, para juri lomba harus memberikan penilaian dengan sistem yang berbeda, yakni SECARA KUANTITATIF.

“Maksudnya gimana?”

Mohon bersabar! Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya jelaskan dulu sebuah hal yang sangat penting:

Pada setiap lomba penulisan, biasanya ada dua tim yang bertugas untuk menangani naskah-naskah peserta. Tim tersebut adalah PANITIA dan JURI.

Panitia bertugas hanya sebatas hal-hal yang bersifat administratif, seperti mendata dan menginventarisir setiap naskah yang masuk. Tapi salah satu tugas mereka yang bisa SANGAT BERPENGARUH terhadap nasib naskah Anda adalah: Memeriksa apakah naskah-naskah yang mereka terima sudah sesuai dengan persyaratan teknis & dan administratif yang mereka tetapkan.

Persyaratan teknis dan administratif ini mencakup hal-hal seperti (contoh):

“Panjang naskah 6 sampai 10 halaman kuarto, ketik 1,5 spasi, huruf Times New Roman ukuran 12. Naskah dikirim rangkap tiga, dimasukkan ke dalam amplop, dan jangan lupa tulis “lomba 2009″ di pojok kiri atasnya. Sertakan formulir asli dari lomba ini, tidak boleh fotokopian, bla.. bla.. bla….”

Yang saya tulis di atas hanya contoh, ya. Jadi jangan sampai “dimasukkan ke hati dan pikiran”. Tiap panitia lomba tentu menetapkan syarat teknis dan administratif yang berbeda-beda.

Nah, boleh dibilang, persyaratan teknis dan administratif merupakan SELEKSI PALING AWAL. Artinya: Bila naskah Anda tidak sesuai dengan persyaratan teknis dan administratif yang ditetapkan oleh panitia, maka wassalam saja, deh! Sebagus apapun naskah Anda, tak akan ada gunanya. Panitia akan langsung menyingkirkanya!

Karena itu, bila Anda ingin menjadi pemenang lomba penulisan manapun, maka HAL SANGAT PENTING yang harus Anda lakukan adalah:
PATUHILAH SEMUA SYARAT TEKNIS & ADMINISTRATIF YANG DITETAPKAN OLEH PANITIA. Jangan Sampai Ada Yang Terlewat!!!

* * *
Setelah menyelesaikan tugasnya, panitia akan menyerahkan naskah-naskah para peserta kepada JURI. Sesuai penjelasan di atas, panitia hanya akan menyerahkan naskah yang sudah lolos dari seleksi teknis dan administratif.

Nah, pada tahap inilah juri mulai bertugas. Mereka akan menilai naskah-naskah yang masuk.

“Bagaimana cara juri memberikan penilaian?”

Nah, inilah yang sudah kita bahas secara sekilas di atas tadi!

Para juri melakukan penilaian secara kuantitatif berdasarkan poin-poin penilaian tertentu. Misalnya, antara angka 10 hingga 100. Angka yang lebih tinggi mencerminkan nilai yang lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya.

Poin-poin penilaian ini berbeda-beda pada setiap lomba. Tapi bagi Anda para peserta lomba, ini adalah INFORMASI YANG SANGAT PENTING untuk Anda ketahui. Sebab poin-poin penilaian inilah yang akan MENENTUKAN NASIB NASKAH ANDA!

Karena poin-poin penilaiannya berbeda-beda pada tiap lomba, tentu saya tidak bisa menyebutkannya dengan pasti. Namun SECARA UMUM seperti berikut.

A. Poin Penilaian yang Bersifat Umum (maksudnya yang berlaku untuk lomba penulisan apapun)

  • Kualitas naskah (dari segi kaidah-kaidah penulisan yang berlaku secara umum).
  • Keunikan atau orisinalitas ide tulisan.
  • Kreativitas (biasanya menyangkut gaya penulisan).
  • Kesesuaian naskah dengan tema lomba.
  • Kesesuaian naskah dengan tujuan yang hendak dicapai oleh panitia lomba tersebut. Misalnya, tujuan panitia adalah untuk kampanye pelestarian hutan.

B. Poin Penilaian yang Bersifat Khusus

Untuk naskah fiksi (cerpen atau novel), poin penilaiannya biasanya mencakup karakter tokoh, setting cerita, alur cerita, konflik cerita, ending, dan sebagainya.

Untuk naskah nonfiksi (esai, resensi, opini, karangan ilmiah, dan sebagainya), poin penilaian biasanya mencakup kekuatan analisis data, sistematika tulisan, dan sebagainya.

(Berita baiknya, ada panitia lomba yang sejak awal sudah menginformasikan poin-poin penilaian ini, tapi ada juga yang tidak).

* * *

lomba penulisanSetiap naskah akan diberi nilai secara kuantitatif berdasarkan poin-poin penilaian tersebut.

Misalkan untuk sebuah lomba penulisan cerpen, panitia menetapkan poin-poin penilaian sebagai berikut:

A. Kualitas naskah
B. Orisinalitas ide tulisan
C. Gaya bahasa
D. Karakter tokoh
E. Setting cerita
F. Alur cerita
G. Konflik cerita
H. Ending cerita

Berikut adalah CONTOH penilaian dari seorang juri untuk sebuah naskah:

A. Kualitas naskah = 75
B. Orisinalitas ide tulisan = 60
C. Gaya bahasa = 95
D. Karakter tokoh = 40
E. Setting cerita = 80
F. Alur cerita = 85
G. Konflik cerita = 80
H. Ending cerita = 35

Maka total nilai untuk naskah ini adalah 550.

Tapi perlu diingat, ini baru total nilai dari SATU ORANG juri. Total nilai sebenarnya adalah GRAND TOTAL dari nilai akhir dari masing-masing juri. Misalkan jumlah juri adalah 3 (tiga). Juri II memberikan total nilai 750 dan juri III memberikan total nilai 600. Maka, NILAI AKHIR dari naskah ini adalah 1.900.

Setelah para juri selesai melakukan penilaian, hasilnya diserahkan kepada panitia. Tugas panitia selanjutnya adalah menjumlahkan semua nilai. Naskah mana yang mendapat nilai tertinggi, maka dialah yang tampil sebagai pemenang.

Dengan kata lain: Pihak yang menetapkan nama-nama pemenang adalah panitia, BUKAN juri. Tapi tentu saja, keputusan mereka diambil berdasarkan hasil penilaian dari juri. Terkadang pada kasus tertentu, pihak panitia bisa memberikan poin penilaian tambahan terhadap naskah-naskah yang mendapat nilai tertinggi (mereka tentu punya pertimbangan tertentu ketika melakukan hal ini). Karena itu, sering terjadi hasil akhir penjurian SEDIKIT BERBEDA dengan hasil yang dibuat oleh juri.

Terkadang juga sering terjadi (saya pernah mengalaminya ketika menjadi juri pada lomba penulisan yang diadakan oleh Blogfam.com), ada dua (atau lebih) naskah calon pemenang yang mendapat nilai sama. Untuk mengatasi kasus-kasus seperti ini, panitia cukup meminta para juri untuk melakukan voting. Mereka cukup menyebutkan secara subjektif, “Saya memilih naskah yang ini.” Tak perlu lagi menggunakan poin penilaian apapun. Dan naskah yang mendapat suara terbanyaklah yang akan tampil sebagai pemenang.

Nah, untuk mengantisipasi kasus “nilai yang sama” seperti ini, biasanya dewan juri berjumlah ganjil, misalnya tiga, lima, tujuh, dan seterusnya. Sebab bila jumlahnya genap, bisa-bisa nanti hasilnya adalah fifty-fifty. Ini tentulah kondisi yang masih belum bisa menghasilkan keputusan “siapa pemenangnya”.

* * *

lomba penulisanDari uraian di atas, jelaslah bahwa sebagai peserta lomba penulisan, sangat penting bagi kita untuk:

  1. Mematuhi semua persyaratan teknis dan administratif yang ditetapkan oleh panitia. Tentu sangat konyol bila Anda mengirim naskah 11 halaman, padahal panitia menetapkan naskah maksimal 10 halaman. Naskah Anda gugur hanya gara-gara kelebihan halaman. Padahal bisa saja naskah Anda sangat bagus dan berpotensi menjadi juara pertama!
    .
    Di internet, saya beberapa kali menemukan penulis yang mengirim naskah lomba ke milis tempat info lomba tersebut diumumkan. Padahal panitia sudah mensyaratkan bahwa naskah harus dikirim ke alamat email tertentu, bukan ke milis manapun. Ini adalah sebuah contoh kecil tentang ketidakpatuhan peserta terhadap persyaratan teknis/administratif.
    .
  2. Memahami poin-poin penilaian seperti yang saya jelaskan di atas.
    .
    Ketika menjadi juri sebuah lomba penulisan di Blogfam.com, saya pernah menghadapi kejadian unik. Ada sebuah naskah peserta – sebut saja si A – yang menurut saya sangat bagus. Saya bahkan berpendapat bahwa itu adalah NASKAH PALING BAGUS dari semua naskah peserta.
    .
    Tapi sayang seribu kali sayang! Naskah si A ini punya satu kelemahan: Isinya tidak sesuai dengan tema. Padahal “kesesuaian dengan tema lomba” merupakan salah satu poin penilaian penting yang ditetapkan oleh panitia.
    .
    Maka: Saya TERPAKSA memberikan nilai yang sangat rendah terhadap naskah si A ini untuk poin “kesesuaian dengan tema lomba”. Akibatnya, total nilai naskah tersebut pun menjadi ikut rendah. Singkat cerita, naskah si A in gagal menjadi pemenang!
    .
    Nah, semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi Anda. Bila mengirim naskah untuk lomba apapun, cobalah untuk memastikan bahwa naskah Anda sudah unggul untuk semua poin penilaian yang ditetapkan oleh panitai atau juri.
    .
    Intinya: Untuk menjadi pemenang lomba penulisan, kualitas naskah BUKAN segalanya!
    .
  3. Masih berkaitan dengan poin ke-2 di atas:
    Sebelum mengikuti lomba penulisan apapun, sebaiknya Anda MULAI SEKARANG mempersiapkan diri dengan pemahaman dan wawasan yang baik mengenai “unsur-unsur apa saja yang berperan dalam membangun kualitas sebuah naskah”. Di atas saya sudah menjelaskan hal ini, yakni pada bagian “B. Poin Penilaian yang Bersifat Khusus”. Bila Anda hendak mempelajari hal ini secara lebih mendalam, saya sarankan untuk bergabung dengan Sekolah-Menulis Online
    .
    Pemahaman yang baik mengenai “unsur-unsur apa saja yang berperan dalam membangun kualitas sebuah naskah” insya Allah bisa membantu Anda untuk menghasilkan karya yang sesuai dengan STANDAR yang ditetapkan oleh para panitia atau juri lomba. Dengan demikian, peluang Anda untuk menjadi pemenang lomba pun semakin besar.

Saran Penting:

Setiap kali mengikuti lomba penulisan, sangat penting bagi Anda untuk mempelajari SIAPA penyelenggaranya. Ini penting, sebab setiap panitia lomba adalah manusia biasa yang punya misi/visi, ideologi, karakter yang khas. Dengan demikian, Anda diharapkan lebih mudah untuk membuat tulisan yang sesuai dengan ideologi, misi/visi dan karakter mereka. Ini akan memperbesar peluang Anda untuk memenangkan lomba.

* * *

Nah, semoga setelah membaca artikel ini, Anda lebih paham dalam menulis naskah yang berpotensi besar menjadi pemenang lomba penulisan.

Semoga Anda sering menjadi pemenang lomba penulisan, sehingga karir kepenulisan Anda bisa melonjak secara drastis! Amiin….

Semoga Bermanfaat.

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com

Did you like this? Share it:

Akal Cuma di Manusia?

2010
07.15
Askum.
Pernahkah Anda penasaran kenapa cuma manusia yang punya akal dan hati?
Artikel ini sepenuhnya adalah pendapat dan semata-mata hanya sekedar “korban” hobi menulis dan “bikin-teori-sendiri” saya. Kebenarannya tidak dijamin–tapi saya tidak melarang siapapun untuk mencari pembenaran di luar blog ini.
Ada banyak alasan, sumber, dan dasar untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut, yang jika semuanya saya ketik dalam satu postingan bakal menghabiskan waktu setahun lebih. Tapi setidaknya saya bisa merangkumnya dalam lima angka saja:
 
1. Manusia menjadi satu-satunya makhluk fana yang punya akal dan hati karena dunia hanya butuh salah satu jenis makhluk yang bisa mengeksploitasi alam. Manusia mengeksploitasi hutan untuk bahan bangunan, mengeksploitasi hewan dan tumbuhan sebagai bahan makanan, mengeploitasi sisa makhluk hidup sebagai bahan bakar. Bayangkan kalau semua hewan dan tumbuhan juga punya akal dan semuanya berebutan otot-ototan buat mengekploitasi alam…
 
2. Manusia menjadi satu-satunya makhluk fana yang punya akal dan hati karena manusia hidup sebagai makhluk sosial–saling membutuhkan, dan manusia butuh akal dan hati untuk mengomunikasikan hal itu pada sesamanya. Bayangkan saja begini: kita butuh beli pakaian, tapi tak punya akal untuk mengatakan hal itu kepada penjualnya. Serba susah, kan?
 
3. Manusia menjadi satu-satunya makhluk fana yang punya akal dan hati karena hanya manusia makhluk yang mampu dan mau berevolusi jadi makhluk berakal, setidaknya, sampai hari ini. Manusia tidak berasal dari monyet–TIDAK. Baru beberapa tahun yang lalu peneliti menemukan bahwa garis evolusi manusia modern dimulai dari Dryopithecus, bukan kera. Itu yang membedakan manusia dengan kera sampai saat ini.
 
4. Manusia menjadi satu-satunya makhluk fana yang punya akal dan hati karena dunia harus dan butuh diolah. Dunia yang notabene memiliki kekayaan melimpah ruah yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia harus diolah dan digali untuk dipelajari. Bayangkan jika sumber daya alam melimpah ruah ini dibiarkan begitu adanya selama jutaan tahun. Maka tak akan ada makhluk yang bisa berevolusi–Dryopithecus tak akan pernah berevolusi menjadi manusia, dan kita tak akan pernah ada.
 
5. Manusia menjadi satu-satunya makhluk fana yang punya akal dan hati karena manusia yang baik adalah manusia yang berguna bagi orang lain. Ini bukan semata-mata penutup, tapi kenyataannya hanya makhluk yang berakal yang mempunyai pemikiran seperti itu. Benar, bukan? :)
Jika biasanya di akhir artikel penulis memberi saran atau argumentasi, saya tidak bisa memberi saran apa-apa pada Anda. Saya juga bingung mau memberi argumentasi apa. Tapi saya cukup senang memberi tahu pendapat ini pada Anda, karena saya berharap Anda bisa mencari pembenaran di luar sana dan mengoreksi sesuatu yang salah pada artikel ini–jika ada.

Akhir kata, terima kasih. Walkum.

Did you like this? Share it:

Apresiasikan Novelmu!

2010
07.15

Apa sih yang ada dalam pikiran Anda waktu melihat sebuah novel?
Novel adalah suatu fantasi atau pemikiran dari seseorang yang dituangkan dalam bentuk sebuah kehidupan atas tokoh-tokoh tertentu. Cerita dalam novel bisa benar-benar ada, atau cuma fiksi belaka. Kalau ditelaah lebih dalam, bakal ada puluhan paragraf lagi yang akan menerangkan tentang fiksi. Tapi jujur, fiksi adalah hal yang pertama terlintas di pikiran saya ketika memandang satu rak penuh novel–maklumlah, makanan saya sehari-hari. :)

Hampir semua novel zaman sekarang hanya fiksi belaka. Tapi, menyangkut novel dan fiksi, otak saya secara otomatis membagi novel fiksi menjadi dua: “fiksi yang tidak butuh otak” dan “fiksi yang butuh otak”.

“Fiksi yang tidak butuh otak”, adalah fiksi yang biasanya dikelompokkan oleh penerbit ke dalam fiksi kanak-kanak. Fiksi ini, seperti yang kebanyakan anak seumur saya baca–walau kami sudah tidak termasuk “kanak-kanak” lagi– saya bagi lagi jadi dua, yaitu yang mendidik secara langsung dan yang tidak mendidik (secara langsung).

Yang mendidik secara langsung, contohnya seperti Lupus dan karya Hilman lainnya. Yang tidak langsung malah ada banyak contoh, seperti Harry Potter-nya J.K. Rowling, Eragon-nya Christoper Paolini, Ghostbumps-nya R.L. Stine, dan ratusan novel terjemahan dan Indonesia lainnya (termasuk novel sama sekali tidak sedikit kurang berkualitas, yang isinya tentang percintaan remaja melulu). Novel yang seperti ini memang yang paling rame dibaca dibeli dipinjem, karena novel jenis ini mampu melambungkan imajinasi setinggi langit dan tidak membuat siapapun yg membacanya bosan, walaupun novelnya lebih tebal dari setumpuk kamus. Ini juga yang membuat para gibuk (baca: gila buku) ramai-ramai menulis dan mengirim karya novel mereka ke penerbit atawa panitia lomba.

Jenis novel fiksi yang berikutnya yaitu “fiksi yang butuh otak”. Novel fiksi ini tidak lebih diminati dibandingkan dengan novel fiksi tidak butuh otak, karena alasan yang klasik: “baca novel kan buat refreshing, kenapa kudu pake mikir segala”.

Tuh kan, ciri remaja masa kini… ~.~

Banyak contohnya: Supernova-nya Dewi Lestari yang filsuf banget, … 5cm-nya Donny Dhirgantoro yang bikin ngakak, misterinya Agatha Christie yg mbulet, dan lain-lain.

Tapi ada juga novel fiksi yang masuk dalam daftar hitam saya (baca; blacklist), dengan kriteria: isi cerita TIRU-TIRU, jalan cerita mbulet nggak karu-karuan, nyenggol hal-hal yg berbau pornografi, dan yg paling penting: ceritanya BASI! Tapi khusus buat yang ini tidak ada contohnya, karena saya tidak mau dituntut sama orang-orang yang masuk dalam daftar hitam tersebut. :)

Itu adalah hal yang saya pikirkan saat saya melihat sebuah, atau banyak buah, novel. Anda?

Did you like this? Share it: